Beruntung orang yang fokus kepada Allah tidak pedulikan tentang Penilaian Orang

 Beruntung orang yang fokus kepada Allah tidak pedulikan tentang Penilaian Orang

Jika Seseorang didatangi Orang mulia yang memperhatikannya.. ia tidak akan peduli dengan perhatian anak kecil, ada yang bilang: “itu anak kecil memperhatikanmu” biarkan sianak, lihat itu orang mulia didepanmu, biarkan kita fokus ke orang mulia ini, dia sedang perhatikan kita, adapun anak kecil.. anak kecil.. apalagi binatang, tidak penting.

Jika Engkau sudah menoleh ke pandangan Allah padamu, apakah masih peduli dengan pandangan makluk.? tidak tidak tidak. Lagi sibuk dengan pandangan Allah yang sedang melihatmu. Biar saja sianak melihatmu, Jangan hiraukan.. lihat itu Allah sedang melihatmu. Jika engkau sungguh memperhatikan pandangan Allah nescaya pandangan Makluk lenyap dari dirimu dan jadi seperti fatamorgana, tidak ada apapun dibaliknya.

Biar saja mereka menilai semahu mereka. Tidakkah engkau dengar Nabi SAW telah meneru kepada makna semacam ini? Beliau bersabda: Lihat Hadis “Ketika ada seorang wanita Bani Israel sedang menyusukan anaknya, tiba-tiba datang seorang laki-laki berwibawa, Si wanita berkata: “ya Allah, Jadikan anakku seperti dia” lalu bayi itu melepaskan payudara ibunya dari mulutnya dan berkata: “Ya Allah jangan jadikan aku seperti dia” iapun terkejut anaknya boleh berkata-kata, lalu bayi kembali menyusu kemudian datang seorang wanita dipukuli orang? mereka menudunya, mereka berkata “kau pencuri kau begitu… begini”.. ia berkata: “ya Allah jangan jadikan anakku seperti dia” lalu si bayi melepaskan payudara dari mulutnya sampai Nabi mencontohkannya dengan tangan mulia beliau .. Si bayi berkata: “ya Allah jadikan aku seperti dia” kembali si ibu berkata: “hai nak, kemapa kamu?” lewat orang yang berwibawa terhormat dimasyarakat aku bilang: jadilah seperti itu, kau bilang “tidak” sedangkan yang ini dipukuli orang-orang kasihan..  berkata sibayi: “adapun orang pertama, dia orang sombong penghuni Neraka, aku tidak ingin sepertinya.. adapun wanita ini, ia suci disisi Allah.. mereka tuduh pencuri padahal bukan, pendusta padahal bukan, dia suci disisi Allah maka aku ingin seperti dia”

siapa yang ia tujukan? apa yang kau inginkan dengan perhatian orang-orang kepada kelebihan dan ucapanmu? oleh kerana itu.. kita belajar dari guru-guru kita, mereka berkata: “ahai anak-anak, berdakwahlah kepada Allah bukan kepada kami” jangan berdakwah kepada kami, atau kepada toriqah kami secara khusunya, tapi berdakwahlah kepada Allah. Kalian faham? berdakwahlah kepada Allah SWT. dengna tariqah ini mereka berdahwah kepada Allah bukan berdakwah kepada tarikat, denga tarikat ini berdakwahlah kepada Allah SWT

Begitulah.. bahkan mereka beribadat kepada Allah dengan selalu melihat kekurangan diri sendiri.. selalu.. selalu, kalian telah dengar Imam Alhadad berkata: Hai Nafsu, yang kau datangkan ini hal yang aneh. ilmu dan akal, tidak ada ibadah tidak adalah adab sifat munafik, ia berkata “hei nafsu, kau munafik ya..!” sifat munafik sebagaimana kita dengar dalam Al-Quran , lidah pintar dan hatinya bodoh, ia bilang kepada dirinya begitu … hatinya bodoh dan senannya adalah cinta perhiasan dan jabatan, waspadalah kau sebelum ditutup lembaran amalanmu didalam kubur kau tidak punya penghibur, keluarga dan teman pergi setelah mereka meguburimu mereka tinggalkan dirimu dan amalmu yang telah lalu, harta ditinggalkan dan amal menemani. hei mafsu, celaka kau begitu seringnya berlambat-lambat begitu lamanya kau tertipu oleh hal mustahil, begitu sering lupa.. begitu seringnya lalai.. begitu seringnya.. begitulah beliau marahi dirinya. Lailahaillalah

Wahai Celaka nafsuku yang tersesat dari jalan lurus ia mulai merayuku dan tujuannya adalah pangkat dan harta, Ya Allah, ia telah menguasaiku dengan angan-angan, ia tawan aku keadaan keinginan-keinginan dunia, ia buat aku tergelincir dan ia ikat aku dengan rantai, aku meminta tolong padamu ya Allah untuk mengobati hatiku, Ya Allah Ubati hati kami

Jika kau datang padanya, dan akan datang padamu, jika Allah telah datang padanya Apa masih mencari-cari perhatian dari orang-orang….? eee…. eee… eee… presiden atau penguasa sengaja datang padanya.. tiba-tiba ada seorang tentera berkata: “Selamat datang.. selamat datang, apa khabar?” liat itu presiden datang padamu.. hehehiii..

Tentera ini dibawahan tidak sebanding dengannya dan dibawah pemerintahannya, jika kau membalas si tentera dan kau abaikan presiden, nanti kau dan si tentera sumanya akan dimarahi dan dikenakan denda nantinya, si tentera tidak akan memberi manafaat, presiden ini sudah hadir, jika kau perhatikan, dengan kau datang kepada Allah, Allah datang padamu. kau masih mahu perhatian siapa lagi..?

Jangan biarkan berkata: “tidak diajak bicara, tidak mengucap salam kepada kita, tidak menghormati kita”, “Saya tidak dihormati, tidak diagungkan, tidak dimuliakan, tidak dianggap, tidak diberi apa apa” laa haulawala quwwata illa billah..

Hai penyembah makluk, jadilah penyembah tuhan..! kembali jadi pemyembah tuhan lebih baik dari pada penyembah makluk. “mereka beri kata, mereka tidak beri kata, mereka angkat kita, mereka hina kita” mereka itu sebanding apa semistinya..?

Kebiasaan orang-orang soleh yaitu gunakan kesempatan jika mereka datang suatu tempat tidak ada yang perhatikan mereka, tidak ada yang kenal mereka mereka jadikan kesempatan, mereka masuk dan keadaan batin nyaman bersama Allah jika mereka terpaksa datang.

oleh kerana itu ketika imam Alhaddad ditanya tentang hal para wali yang disebutkan tingkatan-tingkatan dan golongan-golongan mereka oleh beliau diantara mereka ada wali yang lebih mengutamakan mengembara dan menempati padang pasir, diantara mereka tinggal diantara masyarakat dan mereka tidak terlihat dibawah tirai kecemburuan diantara mereka.. diantara mereka, mereka bertanya: “siapa yang paling agung diantara mereka?” beliau menjawab: “yang paling agung, yang halnya paling berat” diantara mereka ada wali terlihat kerana perintanya, untuk memberi petunjuk manusia ke jalan yang benar, mereka-mereka itu dibebankan untuk bersabar kepada manusia bergaul dengan mereka, bicara dengan mereka, mengajak mereka, hati mereka bersama Allah tapi jasad mereka bersama makluk, mereka dalam kesabaran besar, tapi itu suatu kewajipan, wajib atas mereka, semoga Allah redho kepada mereka dan kepada kita sebab mereka,

Beruntunglah jiak Allah perhatikan kepadamu, kau jadi hamba terbaik, selamat untukmu dunia akhirat, selamat untukmu zahir dan batin. Allah perhatikan padamu..! Allah perhati padamu..? Allah perhati padamu..? Ya jika kau sungguh datang padanya.

Jika seorang hamba berdiri solat, Allah menghadapinya dangan dirinya, Jika Si hamba Allah Menoleh, Allah berkata: ” apakah anak Adam menoleh ke arah lebih baik dariku..!?” jika ia menoleh kedua kalinua, Allah berkata: “Apakah adak adam menoleh ke arah lebih baik dari-ku..!?” jika ia menoleh ketiga kalinua, Allah berpaling darinya.

Lenyaplah dari perhatian paraa makluk..! jangan kau huraukan siapa yang memberi siapa yang tidak, tidak ada diantara mereka yang jadi maha pemberi dan maha penghalan pemberian. urusan ada ditangan Allah, percayalah pada-nya..! sibukkan diri dengan perhatian-Nya kepadamu..! kau tidak akan rasa siapa yang datang dan pergi, semuanya sama.

Oleh kerana itu Syekh Bamakhromah berkata: “Jika Tuhanku Redho, maka siapa yang ingin marah silakan marah”, “Jika Allah telah redho kepada kita, jadi sama antara pujian dan cacian” semua sama, Siapa yang mahu memcaci, siapa yang mahu memuji jika Allah redho, sudah.. Pujilah sampai kenyang, cacilah sampai kenyang, semuanya sama, Apa lagi yang kumahu darimu..? Allah sudah redho, Alhamdulillah pergi sana kamu.! tujuannya redho Allah itu..

Kau dengar Rasul pernah bersabda (Lihat Rujukan): “asal Kau tidak marah padaku maka aku tidak peduli” tapi afiyat darimu lebih luas untukku

Allahumasoliala Saidina Muhammad

 

 

 

 

 

 

 

Rujukan:

Hadis Sahih Bukhari Jilid 3. Hadis Nombor 1497.
Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi s.a.w., beliau bersabda: “Yang pandai berbicara dalam buaian (pada waktu kecil), hanyalah tiga orang, di antaranya ‘Isa. Ada seorang laki-laki Bani Israil yang bernama Juraij. Ketika ia solat, datang ibunya memanggilnya. Kata Juraij dalam hatinya: “Apakah akan saya jawab ibu saya, atau saya terus solat?” Kata ibu: “Wahai Tuhan! Janganlah Engkau matikan ia sebelum Engkau perlihatkan kepadanya muka perempuan pelacur!” Dan Juraij tetap dalam tempat peribadatannya. Kemudian seorang perempuan menawarkan diri kepadanya untuk berbuat jahat, Juraij menolak. Perempuan itu lalu datang kepada seorang penggembala, menyerahkan diri kepadanya. Kemudian ia melahirkan anak, dan dikatakannya anak Juraij. Orang banyak datang kepadanya, menghancurkan tempat peribadatannya. Mereka menyeret dan mencaci-makinya. Kemudian Juraij berwuduk dan terus mengerjakan solat. Lalu didatanginya anak itu seraya berkata: “Hai anak! Siapakah ayahmu?” Jawabnya: “Penggembala!” Orang banyak tadi lalu berkata: “Kami dirikan kembali tempat peribadatanmu dari emas!” Kata Juraij: “Jangan! Cukup dari tanah saja!” Ada lagi seorang perempuan Bani Israel sedang menyusukan anaknya. Maka seorang laki-laki lalu ditempatnya menunggang kuda lagi tampan rupanya. Kata perempuan itu: “Wahai Tuhan! Jadikanlah anakku seumpama orang ini!” Anak itu pun lalu meninggalkan susu ibunya dan menghadap kepada orang yang menunggang kuda itu, katanya: “Wahai Tuhan! Janganlah Engkau jadikan saya seumpama dia!” Kemudian anak itu kembali menghisap susu ibunya. Kata Abu Hurairah: Seolah-olah saya melihat Nabi s.a.w. menghisap jari beliau. Kemudian lalu pula di tempat itu seorang budak perempuan. Kata perempuan itu: “Wahai Tuhan! Jangan Engkau jadikan anakku seumpama orang ini!” Anak itu pun lalu meninggalkan susu ibunya, katanya: “Wahai Tuhan! Jadikanlah saya seumpama dia!” Ibunya lalu berkata: “Mengapa begitu?” Jawabnya: Orang yang menunggang kuda tadi adalah seorang yang sangat takbur. Sedangkan budak perempuan itu banyak orang berkata kepadanya: Engkau pencuri dan penzina, padahal ia tiada pernah berbuat demikian”.

Rujukan 2

Nabi berhenti seraya memanjatkan doa, sebagaimana dinukilkan Imam at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, al-Baghdadi dalam al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi:

اللّهُمّ إلَيْك أَشْكُو ضَعْفَ قُوّتِي ، وَقِلّةَ حِيلَتِي ، وَهَوَانِي عَلَى النّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِينَ ! أَنْتَ رَبّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبّي ، إلَى مَنْ تَكِلُنِي ؟ إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهّمُنِي ؟ أَمْ إلَى عَدُوّ مَلّكْتَهُ أَمْرِي ؟ إنْ لَمْ يَكُنْ بِك عَلَيّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي ، وَلَكِنّ عَافِيَتَك هِيَ أَوْسَعُ لِي ، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِك الّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَك  أَوْ يَحِلّ عَلَيّ سُخْطُكَ، لَك الْعُتْبَى حَتّى تَرْضَى وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوّةَ إلّا بِك

“Allahuma Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maharahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu.”

Malaikat Jibril iba menyaksikan Rasulullah itu terluka fisik dan hatinya. Jibril berkata, “Allah mengetahui apa yang terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat-malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.”

Para malaikat penjaga gunung itu berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.”

Nabi dengan lembut berkata kepada Jibril dan malaikat penjaga gunung, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, aku berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.” Nabi bahkan berdoa yang artinya, “Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Related post

error: Alert: Content is protected !!